Transformasi Sikap Orangtua: Dari Keras Menjadi Lembut pada Cucu
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Transformasi Sikap Orangtua: Dari Keras Menjadi Lembut pada Cucu

KOMPAS.com - Perubahan sikap orangtua yang dulu keras saat membesarkan anak menjadi lebih lembut ketika memiliki cucu merupakan fenomena yang cukup umum terjadi.

Psikolog klinis Rumah Sakit DR Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., mengatakan fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui psikologi perkembangan.

Saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (24/2/2026), Joko menjelaskan bahwa dalam teori psikososial Erik Erikson, individu yang memasuki masa lanjut berada pada fase tertentu dalam perkembangan hidupnya.

“Fenomena ini cukup umum ya di dalam psikologi perkembangan. Menurut teorinya tahap psikososialnya dari Erik Erikson, individu yang memasuki masa lanjut itu berada pada fase generativity,” ujar Joko.

Ia menambahkan bahwa fase ini dapat berlanjut pada tahap integrity versus despair.

“Fase ini seseorang ini cenderung ingin mewariskan nilai cinta dan rasa aman, jadi bukan lagi sekadar menegakkan disiplin,” katanya.

Kematangan emosi di usia lanjut

Lihat Foto

Selain faktor fase perkembangan, usia juga memengaruhi kestabilan emosi seseorang.

“Seiring dengan bertambahnya usia, pengendalian atau regulasi emosi ini biasanya lebih stabil,” jelas Joko.

Ia mengatakan banyak kakek dan nenek telah melewati fase perjuangan ekonomi dan tekanan dalam membesarkan anak.

“Mereka tidak lagi ada dalam posisi harus mendidik keras demi bertahan hidup,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pendekatan kepada cucu menjadi lebih santai dan penuh kehangatan.

Refleksi dan penyesalan masa lalu

Perubahan sikap juga dapat dipengaruhi oleh refleksi terhadap masa lalu.

“Banyak orangtua yang menyadari bahwa dulu itu mereka terlalu keras,” kata Joko.

Menurut dia, kehadiran cucu bisa menjadi kesempatan kedua untuk mengekspresikan rasa sayang secara lebih terbuka.