Strategi Co-parenting Sehat untuk Kebahagiaan Anak
KOMPAS.com - Meski sudah tak terikat dalam pernikahan, banyak pasangan suami istri yang tetap memilih untuk bekerja sama demi kebahagiaan dan tumbuh kembang anak. Konsep ini disebut juga dengan co-parenting.
Bukan hal yang mudah, tentu saja. Perbedaan pandangan, emosi yang belum sepenuhnya reda, hingga pola asuh yang tidak selalu sejalan kerap menjadi tantangan.
Tantangan dalam menjalankan co-parenting juga dialami pengusaha Insanul Fahmi dan mantan istrinya, Wardatina Mawa. Mereka kembali berseteru, kali ini perihal pertemuan Insanul dengan anak-anaknya.
Insanul merasa bahwa waktu dirinya bertemu dengan anak-anaknya dibatasi, dan berniat untuk melaporkan hal ini pada Komnas Anak.
"Makanya dalam beberapa waktu ini, kalau misalnya memang masih belum ada respons buat ketemu anak, kayaknya aku sama Bang Tomi pengin tegas ke Komnas,” kata Insanul di Jakarta baru-baru ini, dikutip dari Kompas.com, Selasa (24/2/2026).
“Tapi sebenarnya itu mungkin opsi terakhir karena kami enggak pengin dramanya panjang,” tambah dia.
Sementara itu, Mawa mengaku heran dengan keluhan itu lantaran Insanul belum lama ini bertemu dengan anak-anaknya. Ia pun berharap agar perseteruan ini tidak berujung pada fitnah, terutama di bulan suci Ramadan.
Tips parenting bebas drama agar anak bahagia
Jika berjalan dengan baik, co-parenting dapat menjadi jembatan yang memastikan anak tetap merasa aman, dicintai, dan didukung oleh kedua orang tuanya.
Berikut tips co-parenting bebas drama agar anak tetap bahagia, meski sudah tidak lagi serumah dengan salah satu orangtuanya.
1. Tetap fokus pada anak
Menurut Psikolog Alida Shally Maulinda, M.Psi., kedua belah pihak harus selalu ingat untuk tetap menjadi orangtua dari sang buah hati, terlepas dari alasan perceraian terjadi.
Psikolog klinis anak dan remaja yang berpraktik di Sentra Pendidikan Khusus Amadeus, Manado, Sulawesi Utara itu melanjutkan, hal tersebut diperlukan agar mereka bisa lebih fokus pada anak ketimbang satu sama lain.
“Dan tentu, peran ayah dan ibu yang terpisah secara fisik dan emosional ini, tetap akan saling berpengaruh dalam perkembangan anak,” kata Alida, diwawancarai beberapa waktu lalu.
Meskipun perasaan marah dan kesal masih tertinggal di hati, kesampingkan dulu demi memprioritaskan keselamatan dan kesehatan anak guna menunjang tumbuh kembang mereka.
2. Membangun komunikasi yang efektif dan terarah
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi., mengingatkan pentingnya menyampaikan informasi secara ringkas dan terfokus pada urusan anak.
Jika interaksi tatap muka berisiko menimbulkan perdebatan, manfaatkan platform pesan teks atau aplikasi manajemen jadwal sebagai media komunikasi.




