Rusia Tuduh AS Gunakan Perundingan Nuklir Iran Sebagai Kedok Serangan Militer
Internasional

Rusia Tuduh AS Gunakan Perundingan Nuklir Iran Sebagai Kedok Serangan Militer

Nalar Media - Dmitry Medvedev, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, menuduh Amerika Serikat menggunakan pembicaraan nuklir dengan Iran sebagai kedok menjelang operasi militer.

“Sang pembawa perdamaian sekali lagi menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya,” sindir Medvedev di Telegram seperti dilansir Al Jazeera pada Sabtu 28 Februari 2026.

“Semua negosiasi dengan Iran adalah operasi kedok. Tidak ada yang meragukan itu. Tidak ada yang benar-benar ingin menyepakati apa pun.”

"Pertanyaannya adalah siapa yang lebih sabar menunggu akhir yang memalukan dari musuh mereka. Amerika Serikat baru berusia 249 tahun. Kekaisaran Persia didirikan lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Mari kita lihat dalam 100 tahun lagi,” ujar dia.

Ini adalah kedua kalinya AS dan Israel menyerang Iran saat berada di tengah perundingan soal nuklir Teheran.

Serangan kali ini terjadi hanya beberapa hari setelah putaran ketiga perundingan tak langsung antara delegasi AS dan Iran di Jenewa, Swiss pada pekan ini, yang membahas program nuklir dan rudal balistik Iran.

Usai perundingan, terdapat optimisme yang dibawa Oman dan Iran.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Oman Badr al-Busaidi, yang bertindak sebagai mediator, melaporkan adanya "kemajuan signifikan" dalam negosiasi tersebut.

Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan kedua pihak menunjukkan keseriusan dan semakin dekat menuju kesepakatan pada isu-isu tertentu.

Namun seperti serangan pada Juni lalu, AS bersama Israel kembali menyerang Iran saat tengah terjadi perundingan nuklir.

Dalam kesempatan terpisah, Angkatan Pertahanan Israel (IDF) mengakui bahwa perencanaan bersama dan intensif selama berbulan-bulan telah dilakukan antara Amerika Serikat dan Israel menjelang kampanye serangan gabungan terhadap Iran pada hari ini.

Koordinasi tersebut memungkinkan kedua militer untuk melakukan "serangan luas dalam sinkronisasi dan koordinasi penuh."

Kampanye ini dirancang untuk "melemahkan secara menyeluruh" rezim Iran dan "menghilangkan ancaman eksistensial terhadap Israel." CNN sebelumnya melaporkan bahwa rudal balistik dan peluncur rudal Iran termasuk di antara target pertama Israel.

"Bahkan pada saat ini, jet tempur Angkatan Udara Israel terus menyerang target di seluruh Iran berdasarkan intelijen yang tepat," kata IDF. "Operasi akan terus berlanjut sesuai kebutuhan."

You can share this post!