Nalar Media - KOMPAS.com - Hubungan yang hangat antara orangtua dan anak laki-laki tidak terbentuk begitu saja.
Pola asuh sejak dini berperan besar dalam membentuk kemampuan anak mengelola emosi, menjalin hubungan, hingga menjadi pribadi yang bertanggung jawab saat dewasa.
Psikoterapis sekaligus pelatih parenting Nicole Runyon dan terapis keluarga berlisensi Dr. Anna Elton membagikan sejumlah kesalahan, yang sebaiknya dihindari orangtua ketika membesarkan anak laki-laki.
7 Kesalahan orangtua dalam mendidik anak laki-laki
1. Mempermalukan anak saat menunjukkan emosi
Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap anak laki-laki tidak boleh menangis atau menunjukkan kesedihan. Kalimat seperti "anak laki-laki harus kuat" justru membuat mereka terbiasa memendam emosi.
"Ketika anak laki-laki dipermalukan karena menunjukkan kerentanan, mereka akan belajar menyembunyikannya,” jelas Dr. Elton, seperti dilansir Your Tango, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, kemampuan mengenali dan mengungkapkan emosi merupakan keterampilan yang perlu dilatih sejak kecil agar anak tidak melampiaskan perasaannya melalui kemarahan atau perilaku agresif.
2. Membiarkan media sosial menjadi guru utama
Orangtua juga perlu aktif mendampingi anak dalam menggunakan media sosial. Jika tidak, berbagai konten dari influencer dapat membentuk cara pandang anak tentang maskulinitas dan hubungan dengan orang lain.
"Kesalahan paling umum yang saya lihat adalah orangtua menyerahkan perkembangan anak kepada internet," kata Runyon.
Karena itu, orangtua sebaiknya lebih sering berdiskusi mengenai nilai, tanggung jawab, serta hubungan yang sehat agar anak memiliki landasan berpikir yang kuat.
3. Terlalu melindungi dari kegagalan
Keinginan membantu anak memang wajar, tetapi terlalu sering menyelesaikan masalah mereka justru dapat menghambat kemandirian.
Runyon menjelaskan, kasih sayang perlu diimbangi dengan ekspektasi yang tinggi.
Dengan memberi kesempatan menghadapi tantangan dan belajar dari kegagalan, anak laki-laki akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh, percaya diri, dan mampu menyelesaikan masalah secara mandiri.
4. Memberikan standar yang berbeda dengan anak perempuan
Tanpa disadari, sebagian keluarga memberikan lebih banyak tugas rumah kepada anak perempuan, sementara anak laki-laki mendapat toleransi lebih besar terhadap perilaku maupun tanggung jawab.
Dr. Elton mengingatkan agar orangtua tidak membebankan pengelolaan emosi dan pekerjaan rumah hanya kepada anak perempuan.