RS Kemenkes Surabaya Gelar Seminar Parenting untuk Hadapi Tantangan Digital
Sumber Foto: Pikiran Rakyat Jatim
Lifestyle

RS Kemenkes Surabaya Gelar Seminar Parenting untuk Hadapi Tantangan Digital

PR JATIM – Lonjakan kasus gangguan konsentrasi, kecemasan, hingga kecanduan gawai pada anak menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pola asuh konvensional dinilai tak lagi cukup. Menjawab tantangan itu, Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (RS Kemenkes) Surabaya mengambil langkah preventif dengan menggelar Seminar Parenting bertajuk “Bersama Nala & Parents” di Auditorium Heritage RS Kemenkes Surabaya, Sabtu (28/2/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar seminar motivasi. RS Kemenkes Surabaya menempatkan parenting sebagai bagian dari strategi promotif dan preventif kesehatan anak. Institusi layanan kesehatan kini bergerak lebih awal bukan menunggu anak sakit, tetapi memperkuat keluarga sebagai lini pertahanan pertama.

Pelaksana Harian (Plh) Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana L. Siahaan, S.H., MARS., M.H.Kes menegaskan bahwa investasi terbesar menuju Indonesia Emas 2045 ada pada kualitas pola asuh hari ini.

“Kita konsen bagaimana menyiapkan anak-anak yang saat ini dan masa datang bisa tumbuh dengan baik. Tahun 2045 akan sangat bergantung pada anak-anak yang handal saat ini,” ujarnya.

Menurutnya, ancaman terbesar generasi muda bukan hanya penyakit fisik, melainkan rapuhnya ketahanan mental akibat paparan informasi tanpa filter. Anak-anak tumbuh dalam dunia tanpa batas, sementara kemampuan menyaring informasi belum matang.

“Generasi saat ini harus punya ketahanan mental yang kuat. Informasi masuk dengan sangat mudah, sehingga orang tua perlu mendampingi anak-anak ketika mereka berinteraksi dengan dunia luar,” tambahnya.

Seminar ini juga menghadirkan praktik nyata pola asuh berbasis observasi aktif. Ayah Ridwan dan Ibu Sofitri membagikan pengalaman membimbing putri mereka, Nala, yang menunjukkan minat pada dunia kedokteran sejak usia tiga tahun.

“Sejak usia tiga tahun, Nala sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia kedokteran. Kami sering memberikan bacaan tentang anatomi manusia dan melihat bahwa ia juga tertarik dengan bahasa asing,” ungkap Ibu Sofitri.

Pendekatan yang diterapkan tidak instan. Orang tua Nala menyediakan alat peraga anatomi, membiasakan membaca rutin, hingga melatih kosakata asing yang diminati anak.

“Kata-kata asing yang disukai Nala kami latih terus. Sekarang, Nala sudah bisa menghafal anatomi tubuh manusia dari ujung kepala sampai kaki,” tambahnya.

Dari perspektif psikologi, Dra. Astrid Regina Sapiie, M.Psi.T., Psikolog menekankan bahwa kunci parenting efektif terletak pada kehadiran dan observasi orang tua. Stimulasi, kata dia, bahkan bisa dimulai sejak masa kehamilan.

“Dalam ilmu psikologi, stimulasi bisa dilakukan sejak dini, bahkan sejak bayi dalam kandungan. Inti dari parenting adalah orang tua harus punya waktu dan melakukan observasi,” jelasnya.

Ia menegaskan, interaksi langsung dalam aktivitas bermain jauh lebih efektif dibanding sekadar memberikan fasilitas. Dari momen tersebut, orang tua dapat memetakan potensi, minat, dan karakter anak secara lebih akurat.

Sementara itu, dr. Nata Kharimantara, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), mengingatkan bahwa fondasi generasi unggul tetap bertumpu pada kesehatan fisik. Asupan gizi seimbang, aktivitas fisik rutin, serta deteksi dini gangguan kesehatan harus berjalan beriringan dengan stimulasi psikologis.