Nalar Media - JAKARTA | KBA – Halalbihalal Lebaran di Cikeas, Bogor, pada Selasa, 24 Maret 2026 menghadirkan momen yang lebih dari sekadar salam-salaman. Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), berbincang santai.
Di permukaan, ini tampak sebagai ritual Lebaran biasa. Namun bagi pengamat politik, Iwan Tarigan, pertemuan ini sarat makna strategis.
Berita Lainnya
Anatomi Negara Predatoris
[Hitam Manies Prita Ayu Terkasih] Panggonan di Ciracas: Yang Senang saat Saya Marah
Anies Baswedan Ajak Istri ‘Jalan-jalan ke JIS’, Kenang Momen Bangun Stadion Karya Anak Bangsa
Anies Baswedan Sentil Pragmatisme Politik, Pengamat: Tanpa Kompas Moral, Demokrasi Jadi Kosong!
Piala Dunia 2026: Ghana Tantang Inggris di Boston, Berebut Tiket ke 32 Besar
Ketegangan antara Anies dan AHY memang sempat terlihat jelas menjelang Pilpres 2024. Gagalnya kesepakatan koalisi di mana Anies ingin maju dengan AHY sebagai calon wakil presiden memunculkan spekulasi bahwa hubungan kedua elite akan retak.
“Namun pertemuan di Cikeas menegaskan sesuatu yang kerap luput dari perhatian publik: politik elite bisa pragmatis, bahkan ketika strategi elektoral tidak sejalan,” katanya kepada KBA News, Rabu, 25 Maret 2026.
Pertemuan ini, kata Iwan, menekankan satu prinsip yang sering dilupakan: komunikasi yang terjaga adalah senjata politik paling efektif. Meski posisi strategis berbeda, kedua pihak mampu menahan ego, menampilkan sikap sopan, dan tetap berada di jalur strategis.
“Dalam politik modern, kemampuan menjaga interaksi yang elegan sering lebih menentukan daripada siapa yang terlihat menang dalam satu pemilihan atau keputusan koalisi,” jelasnya.
SBY, dalam konteks ini, lanjut dia, berperan sebagai mediator sekaligus penyejuk. Menurutnya, posisi SBY bukan sekadar simbolik. Ia menjaga harmoni internal partai, sekaligus memberi legitimasi terhadap interaksi elite eksternal.
“Peran semacam ini jarang terlihat di permukaan, tetapi sangat menentukan arah strategi politik jangka panjang,” katanya.
Reputasi yang Kuat
Iwan mengatakan, dari pertemuan ini muncul pelajaran penting: politik bukan sekadar menang atau kalah di satu kontestasi, tetapi tentang bagaimana membangun posisi yang stabil dan reputasi yang kuat. Elite politik yang mampu menyeimbangkan ambisi pribadi, strategi elektoral, dan diplomasi akan memiliki keunggulan jangka panjang.
Selain itu, kata dia, momen di Cikeas mengirim sinyal kuat ke publik dan elite lain: politik bisa kompetitif, tapi tetap elegan. Elite yang cerdas mampu mengelola ketegangan internal tanpa menimbulkan konflik terbuka yang merusak citra partai maupun calon.
“Dalam demokrasi modern, kemampuan menampilkan harmoni adalah aset politik tersendiri,” katanya.
Ia juga menilai, secara strategis, meski Pilpres 2024 tidak menghasilkan koalisi Anies-AHY, pertemuan ini membuka opsi politik jangka panjang.
Sebab, lanjut dia, politik bukan hanya soal menang hari ini, tetapi menyiapkan peluang untuk Pemilu 2029. Elite yang mampu menjaga komunikasi dan reputasi cenderung memimpin permainan politik tanpa harus mengorbankan hubungan atau citra.
Yang menarik, bagi Iwan, momen ini juga menunjukkan bahwa diplomasi politik bisa mengalahkan ketegangan. Elite yang sadar akan pentingnya manajemen persepsi publik lebih fokus pada konsistensi, strategi jangka panjang, dan kontrol narasi, daripada terjebak pada konflik emosional sesaat.
Maka kesimpulannya, tambahnya, momen SBY-Anies-AHY di Cikeas bukan sekadar silaturahmi Lebaran. Ini adalah pelajaran politik tingkat tinggi, elite yang mampu menyeimbangkan strategi, diplomasi, dan persepsi publik memiliki posisi lebih kuat daripada mereka yang hanya fokus pada kemenangan jangka pendek.
“Politik, pada akhirnya, bukan hanya tentang angka suara atau satu kontestasi; politik adalah seni mengelola hubungan, membangun reputasi, dan menyiapkan peluang masa depan. Di balik senyum Cikeas, inilah seni itu dijalankan dengan cermat,” ujarnya. (kba)
Tags: AHY Anies Baswedan SBY