Ojek Online vs Anjem: Pilihan Mobilitas Mahasiswa di Kampus
Bagi mahasiswa, mobilitas sehari-hari seperti pergi ke kampus, membeli makan, atau menitip beli barang adalah bagian tak terpisahkan dari rutinitas. Banyak dari mereka yang memilih ojek online karena praktis, mudah dipesan lewat aplikasi, bisa dilacak secara real-time, dan sering kali lebih murah berkat promo atau diskon yang ditawarkan. Tak sedikit pula yang bergantung pada ojek online karena belum memiliki kendaraan pribadi, dan ojek online menjadi solusi paling masuk akal untuk kebutuhan harian.
Namun di sisi lain, ada layanan lokal berbasis komunitas yang mulai berkembang, yakni Anjem (Antar Jemput). Layanan ini umumnya berjalan lewat grup percakapan seperti WhatsApp, di mana mahasiswa tinggal mengirim pesan berisi titik jemput dan tujuan. Biasanya, penyedia jasa Anjem juga adalah mahasiswa dari universitas yang sama, yang menjalankan layanan ini sebagai pekerjaan sampingan. Beberapa saat kemudian, penyedia jasa akan menghubungi dan menyepakati tarif. Sebuah sistem yang lebih luwes, personal, dan tidak terikat aplikasi resmi.
Untuk mengetahui bagaimana keduanya digunakan di kalangan mahasiswa, kami melakukan survei terhadap 42 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES). Hasilnya cukup menarik dan menggambarkan dua kutub pilihan transportasi yang kini hidup berdampingan.
Mayoritas responden, sebanyak 66,7%, menyatakan lebih sering menggunakan ojek online dalam aktivitas harian. Ojek online dianggap lebih cepat dan tidak ribet. Bahkan untuk kebutuhan seperti membeli makanan atau barang, lebih dari separuh responden (51,5%) mengaku sering mengandalkan ojek online.
Anjem, meski belum dominan, mulai mendapatkan perhatian. Sekitar 63,6% responden mengaku pernah menggunakan Anjem, meskipun frekuensinya masih rendah, hanya 12,1% yang menyatakan sering. Sementara sebagian besar hanya sesekali atau jarang.
Ketika ditanya alasan mereka memilih anjem, dua jawaban muncul paling banyak: tarif lebih murah dan waktu pemesanan yang fleksibel. Ini tidak mengherankan, karena mayoritas pengguna Anjem (71,4%) hanya membayar antara Rp5.000–Rp10.000 per perjalanan. Tarif ini jauh di bawah harga rata-rata ojek online di jarak yang sama, terutama tanpa diskon.
Meski begitu, ketika ditanya platform mana yang lebih mereka percaya untuk kebutuhan mobilitas atau titip beli, ojek online tetap unggul. Responden menyebut alasan seperti bisa melacak perjalanan secara real-time, lebih aman, dan lebih terpercaya. Gojek menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan (54,5%), disusul Grab (30,3%) dan Maxim (12,1%).
Soal persepsi keamanan, layanan Anjem tidak serta merta dinilai buruk. Sebanyak 68,8% responden merasa Anjem cukup aman, meskipun 18,8% masih belum bisa menilai karena belum mencoba. Hanya 6,3% yang menyatakan merasa kurang aman.
Satu pertanyaan kunci diajukan di akhir: Jika hanya boleh memilih satu layanan untuk antar jemput atau titip beli, mana yang akan dipilih?
Sebanyak 48,5% tetap memilih ojek online. Sementara itu, hanya 15,2% yang mantap memilih Anjem.
Dari hasil survei ini, terlihat bahwa ojek online masih memegang dominasi dalam ekosistem mobilitas mahasiswa, berkat kenyamanan, kepraktisan, serta sistem yang sudah mapan dan dapat diandalkan. Namun, layanan Anjem mulai menunjukkan potensinya sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan fleksibel, terutama di lingkungan kampus. Meski tidak sepopuler ojek online, keberadaan Anjem tetap cocok dengan ritme dan kebutuhan mahasiswa, terutama untuk perjalanan pendek atau keperluan sederhana sehari-hari.
Kedua layanan ini pada akhirnya saling melengkapi. Ojek online menjawab kebutuhan mobilitas dengan sistem profesional dan cakupan yang luas, sementara Anjem mengisi celah yang lebih fleksibel dan berbasis kepercayaan antar mahasiswa. Seiring berkembangnya budaya kampus yang adaptif terhadap berbagai solusi transportasi, keduanya berpotensi terus bertahan dan berkembang, asalkan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan preferensi pengguna. Baik ojek online maupun Anjem, keduanya memiliki keunggulan masing-masing yang bisa dimanfaatkan sesuai konteks dan situasi.
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”




