Impor Kedelai dan Gandum AS ke Indonesia Kini Tanpa Hambatan
Jakarta -
Produk pangan dan pertanian asal Amerika Serikat (AS) kini bebas masuk ke Indonesia tanpa hambatan persyaratan, seperti neraca komoditas dan perizinan impor. Kebijakan ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS yang telah diteken Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Dalam dokumen Agreement Between The United States of America and The Republic of Indonesia on Reciprocal Trade, Indonesia membebaskan produk pangan dan pertanian asal AS dari kebijakan neraca komoditas, perizinan impor hortikultura, serta persyaratan perizinan impor lainnya. Indonesia tidak akan lagi menerapkan syarat izin yang berbelit-belit.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan produk pangan asal AS yang dibebaskan tarif ini mayoritas bahan baku yang tidak diproduksi dalam negeri dan memang dibutuhkan Indonesia. Menurut Budi, kebutuhan industri menjadi pertimbangan pemerintah.
"Kita itu kan butuh, memang yang kita impor dari Amerika Serikat, itu kan kebanyakan memang kita butuhkan, karena kebanyakan bahan baku," ujar Budi di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (20/2/2026).
Kedelai & Gandum
Ia menyebut komoditas strategis asal AS yang diimpor Indonesia, seperti kedelai dan gandum. Menurut Budi, dengan mudahnya impor asal AS yang masuk dapat menekan biaya produksi dan menjaga harga pangan.
"Kedelai kita juga butuh, kita impor terbesar dari Amerika. Ya kalau kita nggak mempermudah itu justru menyusahkan industri kita. Jadi rata-rata memang bahan baku yang justru memang, memang kalau mempermudah kan jadi murah juga. Biaya produksi menjadi murah. Kita nggak bisa memproduksi," tambah Budi.
Menurut Budi, kebijakan ini tidak akan memicu persoalan terbaru ke depan. Sebab, komoditas pangan yang dibutuhkan merupakan bahan baku yang dibutuhkan industri, seperti gandum dan kedelai.
"Nggak ada masalah, karena yang diimpor itu tadi rata-rata bahan baku. Bahan-bahan yang kita butuhkan, yang kita tidak produksi. Dan itu memang dibutuhkan oleh industri kita," imbuh Budi.
(rea/ara)




