Nalar Media - LIDIK.ID, Jakarta – Pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dinilai menjadi sinyal kuat harmonisasi di level elite politik nasional. Jumat, (20/03/2026).
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai momen kebersamaan kedua tokoh tersebut mencerminkan kedewasaan dalam berpolitik, meski berasal dari latar belakang kekuatan politik yang berbeda.
“Hari ini kita melihat simbol bahwa para elite di negeri ini sangat harmonis, meski secara politik berdiri di tempat yang berbeda,” ujarnya.
Menurutnya, suasana akrab yang ditunjukkan dalam pertemuan tersebut memberikan harapan positif bagi masa depan Indonesia, terutama dalam menjaga persatuan di tengah dinamika politik yang kerap memanas.
“Pemandangan seperti yang ditunjukkan oleh dua tokoh besar bangsa tersebut membuat adem dan menebar optimisme untuk masa depan Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, baik dari sisi politik maupun ekonomi, kekompakan antar elite menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Iwan menyebut bahwa Partai Gerindra dan PDI Perjuangan merupakan dua kekuatan politik besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap arah kebijakan bangsa.
“Secara politik, masyarakat bisa melihat fakta bahwa Prabowo dan Megawati tidak memiliki konflik atau perselisihan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menduga pertemuan tersebut turut membahas sejumlah isu strategis, mulai dari kondisi ekonomi global hingga dinamika politik luar negeri, termasuk ketegangan internasional yang sedang berlangsung.
Selain itu, pertemuan ini dinilai sekaligus membantah spekulasi publik terkait hubungan kedua tokoh yang sebelumnya sempat dikabarkan merenggang, menyusul ketidakhadiran Megawati dalam agenda Silaturahmi dan Diskusi Kebangsaan di Istana Kepresidenan beberapa waktu lalu.
“Spekulasi bahwa hubungan Prabowo-Megawati retak terbantahkan. Justru yang terlihat adalah kedekatan dan keharmonisan,” tuturnya.
Pertemuan tersebut menjadi pesan kuat bahwa perbedaan politik tidak harus berujung pada konflik, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan dan stabilitas bangsa.***