Gita Wirjawan Usulkan Gaji Guru Rp40 Juta untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Sumber Foto: Kompas.tv
Lifestyle

Gita Wirjawan Usulkan Gaji Guru Rp40 Juta untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS.TV - Mantan Menteri Perdagangan sekaligus podcaster ternama, Gita Wirjawan, melontarkan ide revolusioner terkait dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam podcast Ruang Temu Jalma yang tayang di KompasTV, awal Februari 2026, Gita menekankan bahwa Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju jika tidak berani berinvestasi secara ekstrem pada kualitas guru.

Salah satu poin yang paling mencuri perhatian adalah usulan Gita untuk merekrut 100.000 guru terbaik dengan gaji fantastis, yakni Rp40 juta per bulan.

Menurutnya, angka ini masuk akal dibandingkan dengan anggaran pendidikan tahunan yang mencapai ratusan triliun rupiah.

Mengapa Harus Rp40 Juta?

Gita berpendapat bahwa rendahnya gaji guru saat ini, yang rata-rata berada di angka Rp2,8 juta bahkan Rp500 ribu untuk honorer, membuat talenta terbaik bangsa enggan memilih profesi pendidik.

"Siapapun kalau mau sukses itu butuh ambisi dan imajinasi. Ambisi dan imajinasi itu hanya bisa disuntik oleh sosok yang inspiratif. Tapi kalau gurunya cuma digaji Rp2,8 juta, talenta terbaik tidak akan mau kerja jadi guru," ujar Gita Wirjawan.

Ia menambahkan, dengan gaji Rp40 juta, pemerintah bisa menuntut kriteria guru yang sangat tinggi, seperti memiliki IQ di atas 120, mampu menguasai banyak bahasa, dan memiliki kapasitas "berdongeng" yang mampu menyulut inspirasi siswa.

Mengajar vs Parenting

Gita juga melontarkan tesis menarik bahwa "mengajar lebih terukur skalanya (scalable) daripada mendidik anak sendiri (parenting)". Hal ini dikarenakan keterbatasan latar belakang pendidikan orang tua di Indonesia.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, 88% kepala rumah tangga di Indonesia tidak mengenyam pendidikan S1. Oleh karena itu, sekolah menjadi satu-satunya harapan untuk mengkompensasi kekurangan inspirasi yang mungkin tidak didapatkan anak di rumah.

"Seorang guru berhadapan dengan 20 sampai 200 anak. Jika gurunya brilian, kita bisa menyebarkan kecerdasan kepada ratusan siswa sekaligus setiap hari selama 8 jam interaksi di kelas," pungkasnya.

Melawan Feodalisme Pendidikan

Selain masalah kesejahteraan, Gita juga menyoroti budaya feodal yang masih kuat di lingkungan kampus dan sekolah. Ia mendorong adanya "demokratisasi ide" di mana mahasiswa berani menyuarakan pandangan yang berbeda tanpa takut nilai mereka dipangkas secara subjektif oleh dosen.

Baginya, keterbukaan adalah kunci inovasi. Tanpa keterbukaan untuk menerima ide baru atau bahkan tenaga pendidik asing yang lebih ahli, Indonesia akan sulit mengejar ketertinggalan skor PISA dan peringkat universitas dunia yang saat ini masih didominasi oleh Singapura di kawasan Asia Tenggara.

Ingin tahu lebih dalam mengenai gagasan Gita Wirjawan tentang pendidikan, ekonomi Asia Tenggara, hingga rahasia sukses "Smart Luck"?*

Tonton diskusi lengkapnya di kanal YouTube KOMPAS TV melalui link di bawah ini: