Dampak Penelantaran Anak: Masalah Sosial yang Perlu Diperhatikan
Parapuan.co - Dalam kehidupan keluarga yang ideal, kehadiran orang tua seharusnya menjadi sumber rasa aman, dukungan emosional, dan fondasi perkembangan karakter anak. Namun pada kenyataannya tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup.
Masih ada orang tua yang secara fisik hadir tetapi secara emosional absen, bahkan ada pula yang benar-benar menelantarkan tanggung jawabnya sehingga anak harus berkembang tanpa bimbingan yang memadai.
Fenomena orang tua yang mengabaikan dan menelantarkan anak bukan hanya persoalan moral atau kesalahan individu semata, melainkan juga masalah sosial yang memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental, kemampuan sosial, hingga masa depan anak itu sendiri.
Dalam situasi tertentu, penelantaran anak juga mengarah pada kondisi di mana mereka dibiarkan tanpa perlindungan, perhatian, atau pengawasan yang layak sehingga keselamatan dan tumbuh kembangnya terancam.
Bentuk pengabaian ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata karena tidak selalu meninggalkan bekas fisik. Namun dampaknya dapat tertanam dalam psikologis anak selama bertahun-tahun dan memengaruhi cara kamu memandang diri sendiri serta dunia di sekitarmu.
Tidak semua orang tua yang mengabaikan anak melakukannya karena tidak peduli, karena dalam banyak kasus terdapat faktor kompleks yang saling berkaitan seperti tekanan ekonomi, stres berkepanjangan, masalah kesehatan mental, trauma masa kecil yang belum terselesaikan, hingga kurangnya pengetahuan tentang pola asuh yang sehat.
Ketika orang tua tidak memiliki dukungan sosial atau emosional yang memadai, mereka bisa kewalahan menghadapi tanggung jawab pengasuhan sehingga secara perlahan menarik diri dari kebutuhan emosional anak, dan tanpa disadari pola ini menciptakan jarak yang semakin lebar antara orang tua dan anak.
Selain itu, kecanduan alkohol atau zat terlarang, kekerasan dalam rumah tangga, serta konflik pernikahan yang terus-menerus juga dapat membuat orang tua lebih fokus pada masalah pribadi dibandingkan kebutuhan anak, sehingga anak tumbuh dalam suasana rumah yang tidak stabil dan minim kehangatan.
Dalam situasi seperti ini, pengabaian sering terjadi bukan dalam bentuk tindakan tunggal, melainkan pola berulang yang membuat anak merasa tidak penting, tidak didengar, dan tidak dicintai.
Di tahun 2025 lalu, kasus penelantara anak terjadi di Mesuji, Lampung. Seorang anak yang masih berusia enam tahun dikurung dengan sengaja oleh ayah tiri dan ibu kandungnya.
Kasus tersebut sontak menarik perhatian publik juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). "Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan terhadap anak," ujar Plt. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Ratna Susianawati dalam keterangan resmi.
Dari kronologi kasus, pelaku dapat dikenakan beberapa pasal pidana. Untuk tindakan penelantaran kepada anak sesuai pasal 76B jo 77 B Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Bahwa tindakan yang dilakukan oleh pelaku (ayah tiri) merupakan tindak pidana kekerasan fisik maka atas tindakan tersebut terduga terlapor dapat dikenakan pasal 76 C jo pasal 80 ayat (4).
Pelaku juga dikenakan hukuman atas Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00 dan dapat ditambah sepertiga dari ketentuan karena yang melakukan adalah orang tua.
Pelaku juga melakukan menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi terhadap anak sesuai pasal 76 I Jo Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Dampak Jangka Panjang Penelantaran Anak
Dampak penelantaran tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Pasalnya, pengalaman diabaikan dapat membentuk pola pikir dan respons emosional hingga dewasa, terutama dalam hal kepercayaan, harga diri, dan kemampuan mengelola stres.
Banyak orang dewasa yang dulunya mengalami pengabaian cenderung merasa tidak layak dicintai, sulit mempercayai orang lain, atau justru terlalu bergantung pada pasangan karena takut ditinggalkan lagi.
Secara psikologis, penelantaran anak berisiko meningkatkan kemungkinan gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma kompleks, terutama jika pengabaian terjadi bersamaan dengan kekerasan atau kondisi rumah yang tidak aman.
Sementara itu melansir dari laman American Psychological Association, Nathan Fox, PhD, pemimpin Laboratorium Perkembangan Perkembangan Anak di Universitas Maryland menyebut bahwa anak yang tidak mendapatkan perhatian atau diabaikan orang tua kehidupannya terasa sunyi.
"Mereka (anak yang ditelantarkan orang tuanya) merasa bahwa tangisan mereka tidak akan ditanggapi," ujar Nathan Fox.
Bukan hanya itu, ia juga menambahkan bahwa tindak penelantaran juga memberikan masalah serius pada kehidupan yang akan datang.
"Secara umum, anak yang kurang perhatian atau ditelantarkan orang tuanya rentan mengalami masalah serius dalam kehidupannya," lanjutnya.
Nathan Fox memberi contoh masalah psikologis dan kesehatan mental, masalah emosional, hingga perilaku berisiko.
Dari sisi sosial, individu yang tumbuh tanpa bimbingan yang stabil mungkin kesulitan memahami batasan, tanggung jawab, dan cara berkomunikasi yang sehat, sehingga berpotensi mengalami masalah dalam pekerjaan maupun hubungan interpersonal.
Penelantaran anak adalah masalah serius yang sering tersembunyi di balik rutinitas keluarga sehari-hari, namun dampaknya dapat membentuk arah hidup seseorang dalam jangka panjang.
Oleh karenanya, penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tandanya sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung orang tua agar mampu menjalankan perannya dengan lebih sehat.




