Bayi 6 Bulan Meninggal Diduga Akibat Kelalaian Puskesmas Batuah
Sumber Foto: Poskota Kaltim
Sosial

Bayi 6 Bulan Meninggal Diduga Akibat Kelalaian Puskesmas Batuah

(Advokat Titus T Pakalla bersama orang tua almarhum bayi di desa Batuah/pic:ist)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Dugaan kelalaian pelayanan kesehatan kembali mencuat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Seorang bayi laki-laki berusia enam bulan meninggal dunia setelah keluarga mengaku tidak mendapatkan bantuan oksigen di Puskesmas Batuah, sementara ambulans disebut tidak dapat segera digunakan karena sopir tidak berada di tempat. Peristiwa ini terjadi di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan.

Kuasa hukum keluarga korban, Titus T. Pakalla dari TTP & Partner Law Office, menyampaikan kronologi meninggalnya bayi tersebut saat dikonfirmasi, Rabu (18/06/2026).

Kronologi Versi Keluarga

Berdasarkan kronologi dari pihak keluarga korban, yakni keterangan Muhammad Tahir, ayah korban, yang disampaikan kuasa hukumnya korban telah mengalami demam tinggi sejak Sabtu. Pada Senin (16/06/2026) sekitar pukul 03.00 WITA dini hari, orang tua membawa korban ke Puskesmas Batuah untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Perjalanan menuju puskesmas disebut memakan waktu hampir satu jam, dengan jarak lebih dari 10 kilometer menuju jalan poros Batuah dan kondisi jalan yang rusak.

Setibanya di puskesmas, petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan berencana memberikan bantuan oksigen karena korban mengalami sesak napas. Namun, menurut pengakuan keluarga, seluruh tabung oksigen saat itu dalam kondisi kosong.

“Anak dalam kondisi sekarat. Tujuan utama dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan bantuan oksigen sebelum dirujuk ke rumah sakit,” ujar Titus.

Karena oksigen disebut tidak tersedia, pihak puskesmas berencana merujuk korban ke rumah sakit menggunakan ambulans. Namun sopir ambulans tidak berada di tempat. Keluarga mengaku berada di puskesmas sekitar 40–50 menit tanpa tindakan medis yang dinilai memadai.

Akhirnya, orang tua membawa bayi menggunakan mobil tetangga menuju RSUD I.A. Moeis Samarinda Seberang. Dalam perjalanan sekitar lima kilometer, bayi diduga telah meninggal dunia.

Setibanya di rumah sakit, dokter menyatakan korban telah meninggal dengan kondisi tubuh membiru dan diperkirakan wafat dalam perjalanan.

Titus juga menyebut, setelah pemakaman dan video kejadian ramai di media sosial, pihak puskesmas mendatangi keluarga untuk memberikan klarifikasi. Ia mengaku memiliki rekaman video klarifikasi yang menyebut tabung oksigen dalam keadaan kosong saat kejadian.

Sebagai kuasa hukum, Titus mempertanyakan pengawasan fasilitas vital seperti tabung oksigen dan kesiapsiagaan ambulans.

“Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan pertama bagi masyarakat. Tabung oksigen tidak boleh dibiarkan kosong. Ini menyangkut nyawa manusia,” tegasnya.

Pihak keluarga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, baik di Puskesmas Batuah maupun di fasilitas kesehatan lain di Kalimantan Timur. Kuasa hukum menyatakan akan menempuh jalur hukum dan mempertimbangkan pelaporan ke Ombudsman terkait dugaan maladministrasi.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Batuah, dr. M. Yuyut Arianto, memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut.

Menurutnya, secara teknis oksigen di puskesmas dalam kondisi tersedia dan tabung terisi penuh. Namun terdapat kendala saat membuka tuas on-off pada tabung oksigen.

“Jadi terkait teknis, oksigen itu ada dan tabungnya terisi penuh. Hanya saja ada tuas on-off sebelum regulator, seperti keran. Saat itu petugas jaga malam kesulitan membuka tuas tersebut,” jelasnya saat dikonfirmasi Poskotakaltimnews Kamis (19/06/2026) via telpon.

Ia menjelaskan kejadian berlangsung dini hari sekitar pukul 04.00 WITa dan petugas yang berjaga adalah dua perawat.

“ Karena pasien datang dalam kondisi sudah kritis dan oksigen tidak bisa segera digunakan akibat kendala teknis, perawat menyarankan agar pasien segera dirujuk ke rumah sakit,” terangnya.

Terkait dengan sopir ambulan, dirinya menjelaskan, informasi sedikit terkendala karena kondisi tempat yang memang agak susah jaringan. Namun ia mengatakan petugas jaga pada saat itu juga telah mencoba menghubungi sopir ambulans, namun panggilan tidak terhubung.

Sebab itu karena kondisi bayi terus menurun, keluarga disarankan segera membawa pasien ke rumah sakit menggunakan kendaraan yang tersedia.

“Informasi bahwa oksigen tidak ada itu tidak tepat. Oksigen ada, hanya memang kesulitan saat membuka tuasnya,” tegasnya.

Terkait riwayat medis pasien, dr. Yuyut menyebut bahwa sehari sebelumnya bayi tersebut sempat mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Dirgahayu. Namun pihak puskesmas tidak dapat menggali lebih jauh riwayat medis karena keterbatasan kewenangan dan kerahasiaan data antarinstansi.

“Kondisi pasien saat datang memang sudah kurang baik. Kami sudah menghimpun keterangan petugas dan melaporkan kejadian ini ke Dinas Kesehatan. Bahkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi sudah turun melakukan investigasi,” ujarnya.

“Kami terbuka. Kami mengikuti prosedur. Dari pihak puskesmas sudah seterbuka mungkin,” katanya.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik. Dari pihak keluarga korban berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan, terutama terkait kesiapsiagaan fasilitas darurat, agar tidak ada lagi korban serupa di masa mendatang. (tan)