Nalar Media - Para Atlet kota pasuruan yang menginjak plakat, sebagai bentuk kecewa
KATAMEREKA: Pasuruan, Sorak sorai kemenangan di ajang Porprov IX Jatim 2025 belum lama ini berubah menjadi nada kekecewaan. Bukan karena kalah tanding, tapi karena bonus yang diterima para atlet Kota Pasuruan dianggap tak lagi sepadan dengan keringat yang mereka tumpahkan.
Di Gedung Gradhika, Rabu (25/2/2026), momen yang seharusnya penuh apresiasi justru berakhir dramatis. Sejumlah atlet membuang dan menginjak plakat penghargaan usai seremoni penyerahan reward oleh Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo. Aksi itu direkam, lalu viral di media sosial. Dalam hitungan jam, publik pun terbelah.
Kontingen Kota Pasuruan tampil di Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur IX 2025 dengan kekuatan 217 atlet dan 42 pelatih yang turun di 36 cabang olahraga. Mereka pulang membawa medali dan kebanggaan.
Namun, angka bonus yang diterima berbeda jauh dari dua tahun sebelumnya. Jika pada Porprov 2023 emas dihargai Rp 30 juta, kini emas perorangan “hanya” Rp 10 juta. Perak turun dari Rp 20 juta menjadi Rp 7,5 juta. Perunggu dari Rp 10 juta menjadi Rp 5 juta.
Bagi Robiatul Adawiyah, atlet wushu peraih emas, ini bukan semata soal nominal.
“Iya, kami kecewa. Dan kekecewaan ini bukan kecil. Karena yang kami terima hari ini sangat jauh dari yang dijanjikan kepada kami sebelum bertanding. Janji itu disampaikan untuk memotivasi kami, untuk meyakinkan bahwa perjuangan kami dihargai. Tapi realitanya justru sebaliknya,” ujarnya.
Ia menegaskan, para atlet bertanding membawa nama daerah, bukan kepentingan pribadi. Latihan bertahun-tahun, biaya mandiri, hingga pengorbanan waktu menjadi bagian dari perjuangan yang menurutnya layak dihargai lebih serius.
Dari sisi anggaran, Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Pasuruan mencatat total reward yang digelontorkan untuk atlet dan pelatih Porprov IX mencapai Rp 301.250.000.
Rinciannya, perorangan: emas Rp 10 juta, perak Rp 7,5 juta, perunggu Rp 5 juta. Untuk Beregu, emas Rp 15 juta, perak Rp 10 juta, perunggu Rp 7,5 juta. Untuk pelatih, emas Rp 2 juta, perak Rp 1,75 juta, perunggu Rp 1,5 juta.
Di atas kertas, angka itu tetap ratusan juta rupiah. Namun dalam perspektif ekonomi olahraga, nilainya dipandang tak lagi kompetitif dibanding Porprov sebelumnya.
Frenky Sutejo, Sekretaris Cabor IBC MMA Kota Pasuruan, menyebut penurunan itu terasa kontras dengan proses latihan yang lebih dari satu tahun. Cabornya bahkan menyumbang satu emas, dua perak, dan dua perunggu.
Sementara Indah Yulianti, pelatih panahan, menyoroti biaya peralatan dan kebutuhan atlet yang tidak murah. “Emas sekarang hanya dapat Rp 10 juta. Ini benar-benar tidak menghargai perjuangan atlet,” ujarnya.
Wali Kota Adi Wibowo dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf. Ia menjelaskan bahwa pada tahun anggaran 2026, Kota Pasuruan mengalami pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) dan dana bagi hasil dari pusat. Dampaknya merembet ke banyak sektor, termasuk olahraga.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Pasuruan, saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh atlet dan pelatih apabila reward yang kami berikan belum sesuai harapan. Namun penghargaan ini kami berikan dengan penuh rasa hormat atas perjuangan panjenengan semua,” ucapnya.
Secara ekonomi makro daerah, alasan keterbatasan fiskal itu bisa dipahami. Namun dalam perspektif sosial, olahraga bukan sekadar pos belanja. Ia adalah investasi reputasi kota, kebanggaan kolektif, bahkan wajah prestasi daerah.
Sorotan juga datang dari legislatif. Anggota DPRD Kota Pasuruan, Bahrudien Akbar Wahyudi, menilai nominal reward kali ini kurang layak dan jauh di bawah Porprov 2023.
“Di medsos sangat viral dan menurut kami nilainya kurang layak karena di bawah reward Porprov 2023. Boleh efisiensi, tetapi yang menyangkut kepentingan rakyat seperti ini harus diutamakan. Meskipun tidak sebesar tahun 2023, paling tidak mendekati nilai tersebut,” ujarnya.
Ia mengaku dihubungi sejumlah pengurus cabor dan wali atlet setelah video aksi protes itu beredar luas.
Fenomena ini membuka diskusi lebih luas, bagaimana pemerintah daerah memposisikan olahraga? Apakah sekadar agenda seremonial dua tahunan, atau bagian dari strategi pembangunan manusia dan ekonomi kreatif berbasis prestasi?.
postingan sebelumnya
Diduga Rekayasa Kasus, Hotman Paris Ungkap Fakta Baru Terpidana Mati Fandi Ramadhan di DPR.
postingan selanjutnya
Review : One Piece Film: Red (2022)
Anda mungkin juga menyukai
Hujan Gol, Rekor Tercipta, dan Fakta Menarik 2 Negara Ini...
Juni 16, 2026
Pekan Pertama Hampir Rampung, Kejutan Demi Kejutan Muncul
Juni 16, 2026
Profil dan Wakil Zona Amerika di Ajang Piala Dunia 2026
Juni 9, 2026
Tinggalkan Komentar
Anda harus masuk untuk berkomentar.