Permintaan Alas Kaki Indonesia ke AS Diprediksi Tetap Tinggi Pasca Kesepakatan Tarif
Sumber Foto: ANTARA News
Ekonomi

Permintaan Alas Kaki Indonesia ke AS Diprediksi Tetap Tinggi Pasca Kesepakatan Tarif

Prospek perdagangan Indonesia-AS tetap akan besar, mengingat pasar AS masih sulit tergantikan bagi Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan permintaan komoditas alas kaki dan karet Indonesia untuk pasar Amerika Serikat (AS) akan tetap besar terkait perjanjian tarif resiprokal AS.

"Secara umum permintaan AS ke Indonesia akan tetap besar di komoditas berikut yakni mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, karet dan barang dari karet, minyak sawit mentah (CPO)," ujar Eko saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Dirinya juga menambahkan bahwa prospek perdagangan Indonesia-AS tetap akan besar, mengingat pasar AS masih sulit tergantikan bagi Indonesia kendati terdapat perjanjian tarif resiprokal.

"Prospek perdagangan Indonesia-AS tetap akan besar, mengingat pasar AS masih sulit tergantikan bagi Indonesia," katanya.

Sebagai informasi, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan Indonesia dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan yang solid setelah negosiasi dalam beberapa bulan terakhir sebelum penandatanganan perjanjian tarif resiprokal atau timbal balik yang dijadwalkan pada Kamis (19/2) waktu setempat.

Dia menjelaskan kehadirannya untuk menyelesaikan perjanjian dagang yang dinilai penting dan besar untuk kedua negara.

Ia berharap perjanjian perdagangan yang akan ditandatangani itu dapat menjadi dorongan besar bagi kemitraan dan kerja sama ekonomi AS-Indonesia secara berkelanjutan.

Presiden Prabowo akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, salah satunya untuk menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik (agreement on reciprocal trade /ART), yang negosiasinya telah berjalan sejak 2025.

Dalam perjanjian ini, Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk-produk Amerika Serikat, mengatasi berbagai hambatan non-tarif, memperkuat kerja sama bidang perdagangan digital dan teknologi, keamanan nasional, dan kerja sama komersial lainnya.

Amerika Serikat berkomitmen memberi pengecualian tarif bagi sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, di antaranya minyak kelapa sawit, kakao, kopi, teh, dan komoditas strategis lainnya.