Kemenag Libatkan 2.000 Influencer Muda Dalam Literasi Ilmu Falak Jelang Ramadan
•
Beritariau.com, Jakarta – Menjelang Ramadan 1447 H, Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng generasi muda untuk mengarusutamakan literasi hilal, hisab, dan rukyat melalui program Hilal Observation Coaching yang digelar di Jakarta, Selasa (17/2/2026). Kegiatan ini diikuti 31 peserta secara langsung dan sekitar 2.000 peserta secara virtual, mayoritas dari kalangan influencer muda.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan pentingnya peran anak muda dalam menyebarluaskan pemahaman tentang penentuan awal bulan Hijriah di ruang digital. Menurutnya, ilmu falak tidak boleh berhenti di ruang akademik, tetapi harus hadir di media sosial dengan pendekatan yang edukatif dan mencerahkan.
“Di tangan kalian, pengetahuan tentang hilal, hisab, dan rukyat harus dikabarkan ke seluruh Indonesia. Ini ilmu yang langka dan jangan sampai dilupakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah oleh pemerintah tidak semata persoalan agama, tetapi juga menyangkut aspek sains dan tata kelola negara. Keputusan pemerintah, kata dia, harus memenuhi tiga unsur utama: aman secara sains (astronomi/falak), aman secara syariat, dan aman secara regulasi.
Melalui sidang isbat, pemerintah berupaya memfasilitasi umat agar pelaksanaan ibadah yang berdampak pada ruang publik dapat berjalan tertib dan, sejauh mungkin, serentak. Ia mengingatkan generasi muda untuk tidak memprovokasi perbedaan metode penentuan awal bulan, melainkan menjelaskannya secara bijak dan informatif.
“Kalau terjadi perbedaan, itu wajar. Yang dibutuhkan adalah penjelasan yang mencerahkan, bukan provokasi,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menyampaikan bahwa program ini merupakan penguatan dari kegiatan tahun sebelumnya bertajuk Catch the Moon. Tahun ini, nama kegiatan diubah menjadi “Yas’alunaka ‘anil Ahillah” untuk menegaskan landasan Qur’ani, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 tentang hilal.
Arsad menilai minat generasi muda terhadap ilmu falak masih terbatas, padahal perannya sangat strategis dalam kehidupan beragama, mulai dari penentuan awal puasa dan hari raya, waktu salat, hingga fenomena gerhana. Ia menekankan bahwa generasi Z dan milenial yang saat ini mencakup sekitar 60 persen populasi Indonesia akan menjadi penentu arah bangsa menuju 2045.
Karena itu, penguatan literasi falak dinilai sebagai investasi jangka panjang agar ilmu ini tetap hidup dan berkembang di masa depan. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep dasar hisab dan rukyat, tetapi juga mampu memproduksi konten kreatif yang memadukan sains, agama, dan nilai kemanusiaan di media sosial.
“Kami titipkan ilmu falak ini kepada kalian. Jaga dan kembangkan. Jangan sampai 2045 nanti ilmu ini justru hilang,” pungkas Arsad. (*)




