Petani Sawit Desa Ukui Dua Terapkan Strategi Pasif Hadapi Krisis Ekonomi
Berita Pilihan

Petani Sawit Desa Ukui Dua Terapkan Strategi Pasif Hadapi Krisis Ekonomi

Nalar Media - Jakarta, HAISAWIT – Petani kelapa sawit di Desa Ukui Dua, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, menerapkan strategi pasif guna menghadapi krisis ekonomi selama masa peremajaan atau replanting tanaman yang tidak lagi produktif.

Langkah ini diambil karena tanaman baru membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun untuk menghasilkan buah pasir, sehingga pendapatan utama keluarga petani hilang total selama masa tunggu tersebut.

Dilansir dari laman jurnal.peneliti.net, Sabtu (14/03/2026), data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas areal tanaman perkebunan di Ukui menyusut dari 63.162 hektar pada 2020 menjadi hanya 16.074 hektar di 2021.

Penurunan drastis luas lahan tersebut berkaitan erat dengan proses peremajaan pohon tua berusia di atas dua puluh lima tahun yang sudah tidak memberikan manfaat ekonomis bagi pemilik kebun di wilayah Riau.

Strategi pasif menjadi tulang punggung bertahan hidup karena mayoritas informan tidak memiliki pekerjaan sampingan dan anggota keluarga tidak terlibat dalam usaha produktif tambahan untuk menjaga kestabilan penghasilan ekonomi keluarga.

Kondisi ekonomi rumah tangga petani selama masa krisis ini sangat bergantung pada kemampuan internal dalam mengelola konsumsi harian serta efisiensi anggaran belanja agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi dengan baik.

Bentuk nyata strategi pasif yang dilakukan oleh para petani di Desa Ukui Dua meliputi:

Melakukan penghematan ketat terhadap kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Menunda belanja barang yang sifatnya tidak mendesak atau konsumtif.

Mengatur ulang anggaran belanja mingguan agar sesuai dengan kondisi pendapatan.

Mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan sekunder guna menjaga kestabilan finansial.

Para petani juga melakukan penghematan pada penggunaan listrik dan air, serta mengurangi pemberian uang jajan kepada anak-anak dengan memberikan pengertian mengenai kondisi keuangan keluarga yang sedang terbatas.

Fokus utama pengeluaran dialihkan sepenuhnya untuk kebutuhan primer seperti biaya makan dan pendidikan anak, sementara keinginan konsumtif lainnya ditunda hingga kebun kelapa sawit kembali menghasilkan pendapatan rutin bulanan.

Pilihan strategi ini muncul karena adanya keterbatasan akses terhadap modal serta minimnya keterampilan non-pertanian yang dimiliki oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Pelalawan untuk beralih ke sektor pekerjaan lainnya.

Selain strategi pasif, terdapat beberapa fakta terkait kondisi petani selama masa peremajaan:

Biaya pelaksanaan peremajaan kebun mencapai angka sekitar Rp25.000.000 per hektar.

Petani menghadapi tantangan besar karena tidak ada pemasukan selama tiga tahun.

Pinjaman alat berat dari pemerintah daerah membantu mengurangi beban biaya peremajaan.

Seluruh informan menyatakan tidak menerima bantuan langsung dari pihak pemerintah pusat.

Sikap mandiri dengan tidak bergantung pada jaringan eksternal seperti bank atau koperasi menunjukkan adanya hambatan akses formal bagi petani swadaya dalam mendapatkan dukungan finansial saat masa sulit.

Ketergantungan tinggi pada satu jenis komoditas tanpa adanya diversifikasi ekonomi menyebabkan kerentanan yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat saat siklus tanam kelapa sawit memasuki fase pembaruan lahan secara menyeluruh.

Meskipun bersifat jangka pendek, langkah efisiensi internal ini terbukti cukup efektif bagi keluarga petani di Riau dalam menjaga kelangsungan hidup hingga tanaman kelapa sawit mencapai usia produktif kembali.***

You can share this post!