Kalimat Penting yang Ingin Didengar Anak Dewasa dari Orangtua
Nalar Media - KOMPAS.com – Seiring bertambahnya usia, hubungan antara anak dan orangtua juga ikut berubah. Dalam fase ini, komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan empati menjadi kunci untuk menjaga hubungan tetap sehat.
Pada fase ini, anak yang telah beranjak dewasa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada orangtua, tetapi tetap membutuhkan dukungan emosional dalam hubungan tersebut.
Menurut terapis Lara Morales Daitter, anak dewasa sering merindukan kalimat yang memvalidasi perasaan mereka, terutama terkait pengalaman di masa lalu.
“Anak dewasa sering merindukan kalimat yang memvalidasi perasaan mereka, seperti pengakuan atas luka di masa lalu atau bentuk pemahaman dari orangtua,” ujarnya, dikutip dari HuffPost, Rabu (25/3/2026).
Berikut sejumlah kalimat sederhana yang ingin didengar anak dewasa dari orangtua mereka serta dapat membantu memperbaiki hubungan antara keduanya.
Kalimat yang Ingin Didengar Anak Dewasa
1. “Aku minta maaf”
Permintaan maaf menjadi salah satu hal yang paling diharapkan oleh anak dewasa dari orangtua.
Bagi sebagian orang, dua kata ini memiliki makna yang besar karena menunjukkan pengakuan atas pengalaman yang pernah terjadi di masa lalu.
Terapis Jor-El Caraballo mengatakan bahwa banyak orang dewasa mulai merefleksikan pola asuh yang mereka terima dan dampaknya terhadap kesehatan mental.
“Divalidasi dan mendapatkan permintaan maaf dari orangtua bisa menjadi hal yang sangat berarti bagi anak dewasa,” ujarnya.
Menurut terapis Arielle Dualan, mengakui kesalahan, baik disengaja maupun tidak, dapat membuka ruang untuk memperbaiki hubungan. Sikap ini juga menunjukkan kerendahan hati dan kesiapan untuk membangun kembali koneksi emosional.
pressfoto/ Freepik Ilustrasi mertua dan menantu makan bersama.
2. “Aku sedang berjuang saat itu”
Pernyataan ini bukan untuk membenarkan kesalahan, tetapi memberikan konteks terhadap kondisi yang dihadapi orangtua di masa lalu.
Banyak orangtua menjalani berbagai tekanan, mulai dari pekerjaan hingga masalah pribadi, sambil tetap berusaha mengasuh anak.
Terapis Nedra Glover Tawwab menjelaskan bahwa memahami situasi tersebut dapat membantu anak melihat pengalaman masa kecil dari perspektif yang lebih luas.
“Menjelaskan kondisi yang dihadapi saat itu bisa menjadi proses yang menyembuhkan dalam hubungan,” ucapnya.
Dengan adanya penjelasan ini, anak dewasa dapat lebih memahami bahwa orangtua juga memiliki keterbatasan sehingga membuka ruang untuk berempati dan rekonsiliasi.




